Mengenali Karakter Lewat Mendaki Gunung

Each fresh peak ascended teaches something. Setiap puncak yang baru didaki selalu mengajarkan sesuatu,” begitu kata Sir Martin Convay. Halo Wovger! Perkenalkan namaku Janatan Ginting, lahir di Medan 20 Januari 1989 dan sekarang sedang tinggal di Jl. Ciumbuleuit, Bandung. Jika ditanya cita-citaku apa, maka aku menjawab: ingin menjadi seorang Mountain Guide suatu hari nanti, lalu aku juga bermimpi ingin menjadi seorang entrepreneur, mendalami ilmu fotografi, mendalami ilmu psikologi petualangan dan tentunya tetap bertualang di alam. Hobiku ialah bermain futsal, berlari, bersepeda, memanjat tebing dan salah satu yang paling aku suka: mendaki gunung.

Aku mulai tertarik mendaki gunung setelah masuk Mahitala, sebuah organisasi pencinta alam di kampusku, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Awalnya, Bapak dan Mamak tidak mendukungku untuk mendaki gunung karena buat mereka kegiatan tersebut sangat berbahaya. Bahkan ketika meminta ijin untuk menjalani ekspedisi pendakian 7 puncak dunia pada tahun 2010-2011 yang lalu, Mamak sampai menangis, memintaku untuk mengurungkan niatku itu.

Tapi memang aku melihat sebuah kewajaran disini, bahwa setiap orangtua pasti akan memiliki kekhawatiran ketika anaknya melakukan kegiatan yang berbahaya. Tapi dengan keinginan yang kuat, segala penjelasan serta memberi pengertian kepada mereka bahwa kegiatan ini memang penuh risiko, lalu untuk melakukannya, tim telah mempersiapkannya dengan baik dan semua akan aman-aman saja, akhirnya orangtuaku setuju.

Sejauh ini, aku sudah pernah mendaki beberapa gunung, diantaranya:

  • Rinjani, Lombok.
  • Carstensz Pyramid, Papua.
  • Kilimanjaro, Tanzania.
  • Elbrus, Rusia.
  • Aconcagua, Argentina.
  • Vinson, Antartika.
  • Everest, Nepal.
  • Denali, Alaska.
  • Argopuro, Jawa Timur.
  • Kerinci, Jambi.

Mendaki gunung merupakan kegiatan yang memiliki risiko tinggi. Disinilah seorang pendaki itu diuji untuk menyeimbangkan antara risiko yang ada serta manfaat yang diterima. Risiko yang dimaksud adalah seperti risiko kecelakaan, tersesat, dan bahkan kehilangan nyawa. Namun risiko-risiko tersebut dapat diminimalisir dengan melakukan persiapan yang matang, mulai dari kesiapan mental, fisik, peralatan, informasi medan yang akan ditempuh, kemampuan bernavigasi dan lain sebagainya. Persiapan yang matang merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan dalam pendakian gunung.

Mungkin Wovger pernah mendengar bahwa banyak pendaki yang meninggal di gunung karena kedinginan. Kenapa? Salah satu penyebabnya adalah karena kekurangan makanan, kedinginan karena menggunakan pakaian basah akibat kehujanan, atau bahkan karena tidak membawa peralatan tidur yang memadai di gunung.

Artinya, hal-hal tersebut terjadi karena kurangnya persiapan, bukan? Nah, itu semua juga bisa diibaratkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat mencapai sebuah tujuan kalau kita mempersiapkannya dengan matang.

Selama mendaki gunung, aku dan teman-teman sudah pernah menghadapi banyak hal yang terjadi diluar kontrol kami sebagai manusia, seperti cuaca yang tidak mendukung, longsor salju, atau masih ada kemungkinan terjadinya human error. Ketika berhadapan dengan masalah di gunung, hal pertama yang harus disadari adalah tingkat emosi masing-masing anggota, seperti perasaan marah, takut atau panik. Karena emosi-emosi tersebut sama sekali tidak membantu untuk menemukan solusi. Lebih parah lagi jika sampai ada yang emosi meluap-luap tidak keruan, karena tentu itu akan berdampak buruk, dan menjadikan masalah semakin besar.

Pernah suatu ketika, aku dan teman-teman mendaki gunung Elbrus di Rusia pada tahun 2010. Di sana, kami menghadapi masalah komunikasi dengan pemandu lokal, lalu terjadilah miskomunikasi di antara kami. Kalau saja kami mengikuti emosi, mungkin saja yang kami hadapi adalah sebuah perdebatan panjang dengan pemandu lokal tersebut. Maka yang kami lakukan pada saat itu ialah berembuk sembari minum teh di tenda dapur, memikirkan dan mencari solusi agar pendakian dapat dilanjutkan sesuai rencana. Akhirnya kami bermusyawarah dengan pemandu lokal tersebut, lalu memutuskan untuk mendaki ke puncak Elbrus tanpa mereka. Kalau dipikir-pikir kelihatan seperti sesuatu yang hebat. Tapi tidak, karena keputusan tersebut kami ambil lantaran merasa memiliki kemampuan untuk sampai di puncak dengan kemampuan yang tim miliki, yakni dengan bantuan peta dan kompas.

Mendaki gunung itu butuh kerja sama, dan yang jangan sampai dilewatkan ialah sering-sering bertanya satu sama lain jika memang ada yang harus dikomunikasikan. Karena keegoisan merupakan salah satu penyebab kegagalan dalam pendakian. Dengan mendaki gunung, aku merasa butuh dengan orang lain. Begitu pula sebaliknya.

Kalau ada istilah “Kita belum tahu karakter seseorang sampai kita berurusan soal uang dengannya,” maka aku ingin mengatakan bahwa “Kita belum tahu karakter seseorang sampai kita benar-benar mendaki gunung bersamanya.” Karena memang, saat mendaki, orang-orang akan terlihat keaslian watak serta perilakunya.

Orang-orang yang dalam keseharian kita kenal pendiam, saat mendaki gunung bisa jadi ia menjadi bawel dan cerewet. Orang-orang yang kita kenal baik pribadinya dalam kehidupan sehari-hari, bisa jadi ketika mendaki gunung ia menunjukkan perilaku tak sabarannya. Namun terlepas dari apapun pribadi masing-masing orang, aku selalu memegang teguh petuah “Mens sana in corpore sano.” Jadi meski perilaku yang mereka tampakkan saat mendaki berbeda dengan kesehariannya dalam bergaul, tapi setidaknya, dengan bersedia mendaki gunung, tubuh dan jiwa mereka sehat. Itu dulu. Karena seiring berjalannya waktu, pasti hal-hal yang berdampak menghambat (ego masing-masing) perjalanan tersebut dapat diminimalisir.

Aku bersyukur memiliki pengalaman tak terlupakan dalam hidup, mendaki gunung-gunung tinggi di dunia. Kami menyebutnya Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala Unpar atau disingkat ISSEMU. Berikut ini adalah tujuh puncak tersebut:

  • Carstensz Pyramid (4.884 mdpl), Papua. Mewakili benua Australasia, Januari 2009.
  • Gunung Kilimanjaro (5.896 mdpl), Tanzania. Mewakili benua Afrika, Agustus 2010.
  • Gunung Elbrus (5.642mdpl), Rusia. Mewakili benua Eropa, Agustus 2010.
  • Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Argentina. Mewakili benua Amerika Selatan, Januari 2011.
  • Gunung Vinson (4.897 mdpl), Antartika. Mewakili benua Antartika, Januari 2011.
  • Gunung Everest (8.848 mdpl), Nepal. Mewakili benua Asia, Maret-Mei 2011.
  • Gunung Denali (6.194 mdpl), Alaska. Mewakili benua Amerika Utara, Juli 2011.

Beberapa mungkin sudah ada yang aku sebutkan di atas tadi. Hanya saja, Karena ini khusus, dan cuma tujuh puncak tertinggi di 7 benua, maka tidak aku gabungkan dengan gunung-gunung lain yang pernah aku daki selain ISSEMU.

Awal mula bisa mendapat kesempatan untuk mejadi pendaki ISSEMU tersebut diawali saat aku memilih untuk bergabung menjadi salah satu anggota Tim Ekspedisi Pegunungan Sudirman Papua 2009 Mahitala Unpar. Pada saat itu, tim melakukan pendakian juga ke Carstensz Pyramid, yang merupakan salah satu dari 7 puncak tertinggi dunia. Setelah ekspedisi di Papua tersebut selesai, ada ide untuk melanjutkan pendakian 7 summits, karena 1 gunung yang di Papua telah berhasil dikantongi. Maka berlanjutlah ekspedisi 7 summits tersebut.

Setiap melakukan perjalanan, pasti selalu ada risiko yang harus dihadapi, khususnya mendaki gunung. Mendaki gunung berarti harus siap menghadapi medan yang ekstrim serta cuaca yang tak dapat diprediksi. Salah satu pengalaman yang membuat jantung berdebar-debar adalah saat berjalan turun dari Camp 2 ke Base Camp Gunung Everest di Nepal. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari sebuah punggungan Everest. Ketika kami memperhatikan ke arah datangnya suara, terlihat longsoran salju, dan ternyata itu sebuah avalanche (salju longsor). Kami tepat beberapa puluh meter dari tempat jatuhnya bongkahan es tersebut. Tak terbayangkan paniknya seperti apa. Tanpa banyak berpikir, kami langsung berlari, masing-masing mencoba mencari cekungan-cekungan untuk berlindung.

Langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi seperti kabut. Butiran-butiran salju beterbangan bersamaan dengan angin yang kencang dari arah terjadinya avalanche. Tanpa banyak berpikir, kami langsung berlari menjauh. Untung saja tak terjadi hal-hal yang kami takutkan.

Aku yakin, Wovger pasti pernah mencapai titik dimana ada perasaan lebih dekat dengan Tuhan, dan lebih bersyukur akan keindahan-keindahan yang telah Tuhan anugerahkan. Setiap melakukan perjalanan di alam terbuka, aku sering merasakan hal tersebut.

Bagiku, mendaki gunung memberi banyak manfaat, baik itu manfaat secara psikologis, spiritual, mental dan fisik. Mendaki gunung membuatku lebih bisa mengenali diri sendiri, teman seperjalanan dan mengenal kebudayaan setempat. Selalu ada hal baru yang didapat ketika melakukan perjalanan seperti mendaki gunung. Setiap setelah selesai mendaki gunung selalu terlintas pertanyaan, gunung mana lagi yang ingin didaki. Untuk saat ini, impian terdekat dalam hal pendakian gunung adalah mendaki gunung Semeru dan Rinjani di waktu liburan nanti dan mendaki 7 summits Indonesia. Ada memang, mimpi untuk mendaki gunung es lagi suatu saat nanti. Namanya gunung Ama Dablam, gunung ini dapat dilihat di perjalanan menuju Everest Base Camp, Nepal. Entah kapan itu akan terjadi, tapi aku berharap, semoga Tuhan beserta semesta mendengar, lalu memberi kesempatan padaku untuk mewujudkannya. Amin.

Artikel ini telah dimuat di website http://www.wovgo.com/2016/04/24/ginting-kita-belum-tahu-karakter-seseorang-sampai-kita-benar-benar-mendaki-gunung-bersamanya/

Advertisements