Ketika Terlahir Menjadi Mahitala

Ngga pernah terbayang sebelumnya untuk bergabung menjadi bagian dari Mahitala. Dari Kabanjahe aku merantau ke tanah Jawa, tepatnya di Kota Bandung. Tujuan ke Bandung cuma satu. Kuliah. Aku tak kenal Mahitala. Baru tau pas masuk Unpar. Pertengahan 2007 jadi sebuah awal mengenal Mahitala lewat Diklatsarnya yang ke 30. Ngga ada motivasi yang serius, hanya sekedar ikut kak Intan dan kak Herna yang sama-sama perantau dari Tanah Karo, Sumatera Utara. 

Bisa dibilang mengikuti Diklatsar Mahitala merupakan sebagai ajang coba-coba untuk mengikuti kegiatan baru selama perkuliahan di Unpar dan juga mencari teman-teman baru. Apalagi aku tak mengikuti proses inisiasi di kampus Ekonomi Unpar karena sakit demam tinggi yang memaksaku untuk beristirahat di kosan. Alhasil aku tak begitu banyak memiliki teman di perkuliahan. Wajar saja, sejak kecil aku memang punya kesulitan untuk menjalin pertemanan di lingkungan baru. Mungkin kalau aku bergabung dengan Mahitala, aku bisa menambah teman-teman baru. 

Di sebuah waktu luang setelah mengikuti perkuliahan, aku, Kak Intan dan Kak Herna datang ke Gedung Serba Guna Unpar (GSG). Tujuannya melihat-lihat “Rumah Mahitala”. Rumah Mahitala adalah sebuah kegiatan yang dibuat oleh panitia Diklatsar. Di sana mahasiswa/i yang tertarik dengan Mahitala bisa lihat-lihat foto dan akan dijelaskan tentang Mahitala. 

Masih dalam ingatan. Farli dengan sangat ramah bercerita pengalamanya berekspedisi dan menjelaskan manfaat-manfaat apa saja yang akan diterima kalau masuk Mahitala. Banyak pelajaran yang bisa didapat katanya. Salah satunya pengembangan diri. Aku tertarik.

Baiklah. Kuputuskan untuk membeli formulir. Lama juga prosesnya untuk menjadi anggota Mahitala. Ada beberapa tahap yang harus dilewati dan waktunya kurang lebih 4 bulan. Belum lagi setiap orang harus memiliki peralatan kalo mau ikut Diklatsar di lapangan. Ada sekitar 60 buah list peralatan yang harus disediakan nantinya kalo mau ikut Diklatsar. Aku juga ngga kenal barang-barang apa itu. Intinya harus punya barang itu gmana pun caranya, bisa beli, bisa juga pinjam. 

Pertemuan demi pertemuan. Latihan demi latihan. Akhirnya kami sampai di tahap inti atau Tahap 2 setelah mengikuti kuliah kelas dan kuliah lapangan di setiap weekend selama beberapa minggu sebelumnya. Dua puluh tujuh calon anggota Mahitala telah siap menjalani Diklatsar Tahap 2. 

Ransel di pundak. Dansis merapikan barisan. Dansis adalah singkatan dari Komandan Siswa. Kami berbaris di pinggir lapangan di dalam kampus. Beberapa menit lagi upacara pelepasan siswa/i ke medan latihan akan dimulai. Suasana sangat menegangkan. Di tengah lapangan di dalam kampus Unpar digunakan sebagai tempat upacara. Dengan gagahnya kami berlari kecil masuk ke lapangan upacara, kemudian Dansis merapikan lagi barisan. Bersikap seperti tentara. Dari sudut yang berbeda barisan senior memasuki lapangan upacara. Berikutnya pembina upacara memasuki lapangan. Upacara pun dimulai.

Dua belas hari berada di medan latihan sangat melelahkan fisik dan mental. Setiap dari kami di push supaya terus bergerak dengan sigap dan mampu bekerja sama. Setiap kesalahan ada konsekuensinya. Kesalahan demi kesalahan kami lakukan. Selalu ada kesepakatan baru untuk tidak mengulang kesalahan. Karena kesalahan kecil ketika berada di alam bisa berakibat fatal. Selalu saja ada di antara kami yang ingin berhenti, meminta mundur dari medan latihan. Mungkin tak kuat dengan kondisi tidak nyaman yang ada. Belum lagi menghadapi udara dingin, pakaian basah atau kaki yang kena blister. Aku lebih memilih diam, mengikuti instruksi yang diberikan. Aku sudah terlanjur memulai. 

Semakin hari tantangan yang dihadapi semakin berat. Kondisi fisik semakin terkuras, sebaliknya tuntutan dari senior semakin besar agar kami bergerak lebih cepat. Bukan hanya bergerak cepat, kami juga harus bisa berpikir di kondisi yang tidak nyaman. Hujan, dingin, basah, lelah menjadi teman sehari-hari. Setiap sore harus bikin bivouack, memasak, bikin perapian. Peralatan yang digunakan pun minim dari rasa nyaman. Harus bisa melewati semua tantangan bersama-sama. Berat memang. Tapi pendidikan itu adalah modal dasar buat kami agar bisa melakukan perjalanan ke alam nantinya.  

Berkas-berkas cahaya mulai terlihat dari arah timur. Tiba-tiba seseorang menyanyikan sebuah lagu. Perlahan semakin banyak orang yang bernyanyi. Sungguh khusyuk suasana pagi itu. Bisa kulihat tetesan air mata berjatuhan. Akhirnya kami berhasil menyelesaikan semua tantangan bersama-sama. Lega, bahagia dan bangga bercampur menjadi satu. Pada 20 Januari 2008 kami sah menjadi bagian dari keluarga Mahitala. Mahitala! Mahitala! Mahitala!

Diklatsar XXX Mahitala Unpar melahirkan 27 elang-elang muda Mahitala. Dari kiri atas: Janatan, Ragil, Kanta, Daksa, Riza, Rizky, Santi, Dion, Sabar, Fifi, Artul, Pipin, Broery, Sandy. Dari kiri bawah: Intan, Madu, Defri, Awi, Habib, Isna, Fenny, Herna, Imel, Renata, Inoy, Andrys.

Advertisements