Menginjakkan Kaki di Pulau Arborek – Raja Ampat, Teringat Kampung Halaman di Kabanjahe – Sumatera Utara

Sebuah kisah yang mengawali bulan Januari di tahun 2017. Tak pernah terbesit dalam pikiran saya bisa berada di sebuah pulau kecil di belahan Indonesia timur ini. Tepatnya di salah satu pulau di Raja Ampat. Namanya Pulau Arborek. 

Lima hari naik kapal Pelni dari Surabaya ke Pelabuhan di Sorong. Kemudian naik ojek ke Pelabuhan Rakyat. Lanjut lagi ke Kota Waisai naik kapal Express. Lalu naik ojek ke sebuah pasar di Waisai. Akhirnya kami bertemu dengan Bang Marcel dan kak Gita. Sepasang suami istri yang sudah menetap di Pulau Arborek. Mereka sedang sibuk-sibuknya mengurus logistik seperti bahan makanan dan aqua galon. Saya dan Satya berkenalan dengan dua orang Jepang, seorang ayah dan anaknya. Mereka juga ingin melihat keindahan Raja Ampat. Kedua turis ini akan di guide oleh Bang Marcel dan Kak Gita selama di Raja Ampat.

Sudah 2 jam lamanya kami naik perahu dari kota Waisai, ibu kota Raja Ampat. Biasanya sejam saja sudah sampai. Bang Marcel, sang nahkoda kapal boat bermuatan 10-14 orang itu bilang kalau muatan kapal agak berlebih daripada biasanya. Apalagi ditambah barang-barang. Kami pun sempat menepi di sebuah pulau di perjalanan untuk mengisi bahan bakar.

Bang Marcel memperlambat laju kapal. Lampu-lampu rumah di Kampung Arborek yang tadinya kami lihat dari kejauhan sudah lebih dekat di depan mata. Mata saya langsung tertuju pada sebuah rumah. Rumah sederhana yang memiliki gerbang unik di depannya. Unik karena berhiaskan lampu-lampu menyala kerlap-kerlip di malam hari. Tersusun rapi menjulang tinggi  berbentuk kerucut. Di ujung atasnya lampu-lampu membentuk bintang. Saya melihat lebih dekat, bahannya terbuat dari botol-botol minuman kemasan bekas. Kreatif. Satu kata untuk Arborek. Perasaan saya berubah menjadi senang bercampur penasaran. Ingin melihat Arborek dari keseluruhan.

Ternyata rumah itu adalah rumah Bang Marcel dan Kak Gita, tempat kami tinggal selama di Arborek. Kami menurunkan barang-barang yang ada di kapal. Membawanya satu per satu ke dalam rumah. Kami beristirahat di teras rumah Kak Gita dan Bang Marcel. Ada sebuah lesehan yang memuat 5-6 orang untuk duduk. Duduk dan mengobrol, seperti biasa saya lebih suka mendengarkan mereka terlebih dahulu. Ada Bang Marcell, kak Gita, Satya, mama Bang Marcel, Aluna dan saya. Saya melepaskan sendal di kaki. Berjalan di atas pasir tanpa alas kaki. Rasanya nyaman sekali. Serasa jadi anak pantai. 

Semakin malam. Masing-masing punya kesibukannya sendiri. Satya masih seru ngobrol sama kak Gita. Saya melihat Aluna (anak kak Gita), dan anak-anak Arborek lain asik berkumpul di sebelah bangunan tempat mesin compressor pengisi tabung berada yang hanya berkisar 20 meter di depan rumah dekat pantai. Umur mereka masih belasan tahun. Sebuah hammock menggantung, seseorang didalamnya. Yang lain sedang sibuk membangun tenda. Ingin bermalam di tenda saja kata Aluna. Kenapa tidak di rumah saja? Saya bertanya. Lebih enak disini katanya. Hmm ya sudah. Saya masuk ke rumah dan kembali membawakan hammock dan juga gitar. Jreng jreng jreng saya memainkan sebuah lagu. Lagu yang dulu sering saya dengar ketika bersekolah minggu di gereja. Tak pernah hapal lagu dan kuncinya. Lagu demi lagu bergantian. Sesekali anak-anak Arborek pun ikut bernyanyi. 

Anak-anak Arborek bercerita kalo sebagian besar penduduk Arborek beragama kristen dan selalu ke gereja setiap hari Minggu. Mereka juga rajin ke gereja. Jadi ingat masa sma dulu. Nyanyi lagu-lagu gereja bersama anak-anak. Rindu suasana di kampung halaman.

Advertisements