Memotret Keindahan Alam di Nusa Penida – Bali

Saya dan Satya semakin sering melakukan perjalanan bersama. Selain sama-sama memiliki ketertarikan memotret, kami juga suka melakukan petualangan. Di bulan Oktober tahun 2016 lalu kami melakukan perjalanan ke Nusa Penida, sebuah pulau yang berada di sebelah tenggara Bali. Nusa sendiri artinya pulau. 

Sudah lama rasanya ingin berkunjung ke pulau ini. Tujuannya cuma satu, menikmati keindahan panorama pantai di Nusa Penida. Sebenarnya masih banyak hal menarik lain selain pantai, tapi saat itu kami hanya ingin ke pantai. Tiga hari di Nusa Penida kami manfaatkan untuk mengunjungi beberapa pantai. 

Dari Bali, ada beberapa cara menuju Nusa Penida. Salah satunya naik kapal dari pelabuhan di Sanur. Di pelabuhan Sanur kami berencana untuk membeli tiket. Tapi apa daya kami kehabisan tiket pagi itu. Di waktu yang bersamaan, ternyata ada pesan masuk di Facebook Satya. Dari Vander, teman Satya yang sedang menunggu kapal keberangkatan ke Nusa Penida. Vander dan Irul juga ingin hunting foto. Tapi Vander dan Irul memilih untuk nenda, sedangkan kami tak bawa tenda karena ingin bermalam di homestay milik warga saja. Vander mengajak saya dan Satya untuk bergabung nenda bareng mereka. Kapasitas tenda mereka cukup untuk 4 orang. It’s a nice idea. Vander dan Irul terlebih dulu berangkat ke Nusa Penida pagi itu, sedangkan kami akan menyusul mereka dan bertemu di Angel’s Billabong. 

Pantai Atuh

Setelah 30 menit naik kapal cepat, kami sampai juga di Nusa Penida. Di pelabuhan, kami segera bertemu dengan Pak Tut Cinta untuk menyewa motor. Harga sewa motor per hari adalah Rp 80.000. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Berkas-berkas cahaya matahari terlihat menembus celah-celah pepohonan. Kupercepat laju sepeda motor agar dapat bertemu Vander dan Irul sebelum gelap di  Angel’s Billabong. Setelah bertemu kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Atuh di sisi timur Nusa Penida, sedangkan kami sedang berada di sisi barat pulau. Malam yang benar-benar terang, cahaya bulan purnama menemani perjalanan kami. Dari Angel’s Billabong butuh 2-2,5 jam perjalanan menuju Pantai Atuh. Walaupun perjalanan begitu melelahkan, cukup senang rasanya dapat menikmati malam di Pantai Atuh. 

Deru ombak pantai, bulan purnama, dan keheningan malam di Pantai Atuh. 

Rumput masih basah. Keesokan harinya kami terbangun karena sinar matahari masuk lewat celah-celah di dalam tenda. Masing-masing mengeluarkan kamera, tak sabar memotret keindahan pagi itu. 

Setelah selesai menikmati pemandangan pagi hari di Pantai Atuh, kami bergegas ke warung untuk sarapan pagi. Setelah selsesai sarapan, kami turun ke arah pantai, penasaran melihat sebuah pondok yang dibangun di atas bukit. Memang sengaja di bangun sebuah pondok, spot di sini memang oke, pemandangannya menakjubkan. Kami bisa melihat ke segala sisi.

Tak terasa waktu terus berjalan. Saya dan Satya melanjutkan perjalanan menuju ke Pasih Uug atau Broken Beach, sedangkan Vander dan Irul kembali ke Bali. Karena Vander dan Irul balik duluan, kami menginap di homestay Pak Krisna Sakti malam itu. Di rumah Pak Krisna tersedia dapur untuk memasak juga. Lumayan bisa menghemat pengeluaran selama di Nusa Penida.

*Ada satu hal yang sangat disayangkan. Foto bersama Vander dan Irul tidak ada karena hardisk eksternal Satya hilang dicuri orang.

Pasih Uug atau Broken Beach

Pasih Hug dan Angel’s Billabong lokasinya bersebelahan. Seperti biasa, sebenarnya saya lebih memilih untuk nyebur ke air daripada hanya sekedar melihat saja. Beginilah pemandangan di Pasir Uug dan Angel’s Billabong.

Pasih Uug atau Broken Beach

Angel’s Billabong

Kelingking Beach dan Crystal Beach

Di hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan lagi mengunjungi tempat menarik lain seperti Kelingking Beach dan Crystal Beach. Sebuah kisah menegangkan sempat kami lalui ketika berada di Pantai Kelingking. Rasa penasaran membawa kami turun ke Arab pantai. Ada sebuah jalur yang terlihat sering dilalui. Agak berbahaya memang karena tidak ada satu pun alat pengaman. Satu-satunya cara adalah turun dengan memegang bebatuan dan dan tetap menempelkan badan ke jalur. 

Kelingking Beach

Setelah menikmati pemandangan di Pantai Kelingking, kami memilih Crystal Beach untuk menikmati sunset. Meminum air kelapa muda menambah nikmat indahnya sore ketika matahari terbenam. Satya asik gogoleran sambil baca buku, sedangkan saya nyoba berpose yoga. Tiba-tiba sekelompok anak kecil terlihat berlari ke pantai membawa papan surfing. Setelah mereka selesai, saya meminjam dan nyoba  belajar surfing walaupun ombak kurang mendukung. 

Crystal Beach

Belajar surfing sebentar.

Notes

-Penyewaan motor atau mobil selama di Nusa Penida -> Pak Tut Cinta +6282146844339

-Di Pantai Atuh terdapat homestay bisa hubungi Pak Madi +625338743637

-Homestay pak Krisna +6281338090117

 

Advertisements