Hangatnya Mentari Pagi di Gunung Batur (1.717 mdpl) – Bali

Ingin melakukan trekking dan menikmati sunrise dari ketinggian di Pulau Dewata Bali? Gunung Batur adalah salah satu tempatnya. Hanya dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk mendaki ke puncak Gunung Batur dari Desa Gunung Batur. Di akhir minggu pun saat ini semakin banyak wisatawan dalam dan luar negri yang mendaki gunung ini hanya untuk menikmati sunrise dan turun lagi.

Pada Oktober 2016 yang lalu saya memiliki kesempatan untuk pergi ke Bali. Ada undangan sebagai pemateri sebuah seminar yang bertajuk “Safe Can Be Fun” di Mapala Wanaprastha Dharma Universitas Udayana, Bali. Setelah seminar selesai, kesempatan berada di Bali saya manfaatkan untuk pergi ke beberapa tempat. Salah satunya adalah mendaki Gunung Batur untuk menikmati mentari terbit bersama teman-teman di Bali.

21 Oktober 2016

Dari sore hari, kami mempersiapkan perlengkapan yang dibawa. Tak perlu membawa banyak barang. Saya membawa daypack yang berisikan botol minum, makanan, kopi, kamera, raincoat, dan kacamata. Sekitar pukul 9 malam, saya, Agung, Ira dan Gung Rian (kakaknya Agung) berangkat dari Kuta menuju sekretariat Mapala Udayana di Denpasar untuk menjemput teman-teman yang akan ke Gunung Batur bersama kami. Dari sekretariat kami berangkat menuju Desa Batur, di kaki Gunung Batur. 

22 Oktober 2016

Kami memilih jalur Toyabungkah untuk mendaki ke puncak saat itu. Berdasarkan cerita Josua, salah satu anggota Mapala Udayana, jalur ini lumayan sepi pendaki. Namun, lebih curam dibandingkan jalur resmi lainnya, yaitu jalur Pura Jati. 

Di sepanjang perjalanan ada saja celetukan-celetukan yang bisa membuat kami tertawa. Setelah melewati hutan, jalur menjadi semakin terbuka. Cahaya matahari mulai menerangi jalan setapak yang kami lalui. Semakin banyak wisatawan yang terlihat di sepanjang jalur karena jalur yang kami lalui kini bersatu dengan jalur Pura Jati. Antrian pun semakin panjang. Sesekali saya berhenti untuk merekam pemandangan dengan kamera.

Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur. Pemandangan Danau Batur, Gunung Abang dan Gunung Agung (dibalik Gunung Abang).

Puncak sudah di depan mata. Dari kejauhan terlihat ramai sekali pendaki yang terlihat asik menikmati hangatnya mentari pagi. Akhirnya kami sampai juga di puncak setelah berjalan sekitar 2 jam. 

Para wisatawan di puncak Gunung Batur.

Mas Adi, Agung dan Ira terlebih dulu sampai di puncak.

Sembari menikmati keindahan pagi itu, kami memasak air untuk menyeduh kopi dan merebus mi instan. Tak berapa lama kemudian, Surya Sinulingga, Ardya dan Andri dari Mapala Udayana menyusul kami. Dengan cepat Surya langsung mengeluarkan nasi bungkus. Nasi bungkus yang mereka makan terlihat lebih menggiurkan. Sarapan menjadi lebih nikmat. Lengkaplah kebahagiaan pagi itu menyantap sarapan bersama hangatnya mentari.
Sudah pukul 08.00. Tiba-tiba langit menjadi berkabut, perbincangan pun terhenti. Kami bergegas untuk turun. Di perjalanan turun ada sebuah goa tempat pertapaan. Goa ini merupakan sarangnya monyet, tapi saat itu tak terlihat seekor monyet pun. Setelah melihat-lihat sebentar kami melanjutkan perjalanan turun.

Goa tempat pertapaam ada di belakang kami. Dari kiri ke kanan: Josua, Surya, saya, Ardya dan Andri.

Setelah mengabadikan momen, kami melanjutkan perjalanan turun ke kaki gunung. Thanks to all of you friends for the time, life is worth it. See you another time.

Istirahat sebentar ketika perjalanan turun.


 

Advertisements