Mendaki Bersama ke Mahameru, Gunung Semeru 3.676 mdpl – Jawa Timur

Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi  di pulau Jawa. Gunung ini berlokasi di Kabupaten Malang dan Lumajang. Puncaknya disebut Mahameru. Gunung yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini merupakan gunung jenis stratovolcano yang masih aktif.

5 November 2016 Cemoro Lawang – Desa Tumpang

Sore hari menjelang malam. Di lereng pegunungan Tengger, Desa Cemoro Lawang, Probolinggo, setelah selesai kegiatan BTS Ultra Run, kami menyewa mobil jeep untuk sampai di Desa Tumpang. Sebuah kebetulan Satya bertemu mas Hari yang menyediakan jasa transportasi jeep rutin dari Tumpang – Ranukumbolo, yang sedang mengantarkan pendaki ke Cemoro Lawang. Jadilah kami ke Tumpang bersama mas Hari.

Kami harus sudah melewati padang savana lembah Bromo sebelum malam agar tidak tersesat karena akan turun kabut tebal. Jarak pandang semakin dekat, kurang dari 10 meter. Di Tumpang kami bermalam di rumah Mas Hari dan mba Nur, sepasang suami dan istri. Kami disuguhkan teh manis hangat dan disediakan tempat untuk beristirahat. Suasana yang hangat.

6 November 2016 Tumpang – Ranu Pane – Ranu Kumbolo – Kalimati

Keesokan harinya kami siap untuk berangkat ke Desa Ranupane. Mendekati Desa Ranu Pane, kami dapat melihat Gunung Semeru dari kejauhan.

Pemandangan Gunung Semeru diperjalanan ke Desa Ranu Pane.
Pemandangan Danau Ranu Regulo dari “Base Camp” Home Stay

Sebelum mendaki gunung Semeru, setiap pendaki diwajibkan untuk mendengarkan briefing dari pihak SAVER yang merupakan sukarelawan yang bekerja sama dengan pihak Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru. Briefing berisi tentang kebijakan dan prosedur yang harus diikuti selama pendakian Gunung Semeru nantinya. Euforia film 5 cm yang menceritakan tentang kisah pendakian gunung Semeru menghipnotis banyak orang untuk mendaki gunung ini. Terlepas dari euforia tersebut, banyak hal yang mungkin tak tersampaikan. Salah satunya adalah persiapan untuk mendaki gunung yang aman dan nyaman.

Satu hal yang patut kita soroti, bukan hanya di gunung Semeru tapi di setiap gunung di manapun, yaitu sampah. Masalah tentang sampah yang bertebaran dimana-mana adalah masalah utama dan sudah berlarut-larut. Selain pihak taman nasional, banyak pihak independen yang mencoba mengampanyekan masalah ini. Setiap solusi sebenarnya tergantung dari pengetahuan dan kesadaran setiap para pendaki untuk tidak membuang sampah sembarangan. Dengan berpikir gunung adalah rumah kita, secara otomatis kita menjaga “rumah” kita tetap bersih bukan?

Mari menjaga gunung tetap bersih. Berawal dari diri sendiri.

Setelah mendengarkan briefing, menikmati sarapan dan seduhan minuman hangat menjadi pilihan sebelum memulai pendakian ke Pos Kalimati hari itu. Tersedia sebuah home stay bernama Base Camp yang menghadap ke danau Regulo.

Sarapan sebelum pendakian.

Pendakian dari Desa Ranu Pane menuju Kalimati kami mulai sekitar pukul 11.00 WIB. Ada 3 pos pemberhentian, di setiap pos kami manfaatkan untuk beristirahat. Di beberapa spot, kami dapat melihat sebagian puncak Mahameru. Itu tujuan kami.

Sekilas terlihat puncak Semeru dari kejauhan.

Sesaat langit tertutup kabut kemudian terbuka lagi. Seketika pemandangan hutan berubah menjadi terbuka. Sudah 3 jam kami berjalan dari Ranu Pane. Danau Ranu Kumbolo sudah di depan mata. Senang rasanya. Seperti biasa, kamera dijepret.

Edelweis dan Danau Ranukumbolo.
Pemandangan jalur turun ke Danau Ranu Kumbolo

Perjalanan masih panjang. Kami harus tiba di Kalimati sebelum gelap. Setelah berjalan menyusuri tepi danau, kami melanjutkan pendakian. Terlihat sebuah tanjakan, banyak orang menyebutnya tanjakan cinta.

Jadi, ini yang dimaksud dengan tanjakan cinta.

Mitos mengatakan bahwa jika selama mendaki tanjakan ini kita harus selalu melihat ke depan dan menyebut nama orang yang kita sayangi, semesta akan merestui hubungan kita dengannya. Terdengar menggelikan bukan? Yap, walau hanya sebuah mitos, but i did it. Hahaha…

Setelah sampai di ujung tanjakan, kami beristirahat dan menghadap ke arah kami datang. Pemandangan Danau Ranu Kumbolo menjadi hadiah dari lelah.

Pemandangan setelah mendaki tanjakan cinta.

Kami pun melanjutkan pendakian. Tak lama berjalan, lembah Oro-oro Ombo sudah di depan mata. Padang savana membentang begitu luas. Lagi dan lagi, gunung Semeru memang indah, kali ini mata kami dimanjakan oleh Oro-oro Ombo. Tak ingin buru-buru, ingin menikmatinya lebih lama.

Oro-oro Ombo

Kami melanjutkan perjalanan. Salah satu keunikan Gunung Semeru adalah bunga Verbena Brasiliensis di Oro-oro Ombo. Tanaman ini mulai tumbuh, berbunga dan mengering sepanjang bulan Januari sampai Agustus.

Dari kejauhan tanaman tersebut sudah kelihatan berwarna kecokelatan. Jika saja ke tempat ini pada musimnya, pemandangan Oro-oro Ombo akan dipenuhi dengan warna ungu.
Kemudian kami berjalan di antara tanaman tersebut. Satu jepretan kamera, bunga Verbena Brasiliensis dengan latar belakang cahaya yang turun dari langit terekam dalam satu frame. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Verbena Brasiliensis

Pukul 17.30 kami sampai di Kalimati. Langit sudah mulai gelap. Puncak Gunung Semeru sudah di depan mata. Dari kejauhan terlihat jalur setapak menuju puncak.

Pos Kalimati, foto ini diambil ketika perjalanan kembali ke Ranu Kumbolo.

Waktunya mendirikan tenda, masak, makan malam dan beristirahat. Makan malam yang mewah. Dion membawa makanan yang paling kami sukai, babi Sei. Makan malam kala itu sungguh nikmat. Thanks Dion, thanks God for the night.

7 November 2016 Kalimati – Puncak Semeru – Kalimati – Ranu Kumbolo

Alarm berbunyi tepat pukul 02.00 WIB. Waktunya bergegas. Cukup sarapan roti tawar dan teh manis. Kami siap beranjak ke puncak. Dari Kalimati kami memasuki hutan dan setelah berjalan sekitar 1 jam, kami tiba di batas vegetasi hutan dan pasir. Hal yang disayangkan adalah kami tidak melalui jalur lama Arcopodo karena jalur sudah berubah. Di Arcopodo sebenarnya ada 2 arca atau patung yang secara unum merupakan bagian dari tempat suci umat Hindu.

Tiang bendera menancap di atas pasir, Bendera Merah Putih berkibar. Tiupan angin semakin kencang, tak ada lagi pohon-pohon yang menghalau angin. Kaki terus melangkah, aku tepat di belakang Satya. Sebagai tim penyapu di belakang barisan.

Batas vegetasi hutan dan pasir.

Langit yang cerah semakin terang ketika di ufuk timur berkas sinar matahari mulai kelihatan di atas batas cakrawala yang berwarna kekuningan. Kami mengabadikan momen ini, berhenti sejenak untuk mengambil foto.

Foto oleh @satyawinnie

Pendakian ke puncak Semeru adalah tantangan terberat. Setiap orang harus memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi ketika berjalan di atas pasir. Karena akan sangat mudah tergelincir. Apalagi jalur yang dilewati sudah dilalui banyak orang dan ketika dimusim kering jalur pasir akan semakin gembur.

Tips berjalan di pasir:

– gunakan gaiter ketika melewati jalur berpasir ke puncak supaya pasir tidak masuk ke dalam sepatu.

trekking pole juga akan sangat membantu pendakian ke puncak

Hari yang sangat diberkati. Cuaca cerah, langit biru, hanya saja angin bertiup kencang. Ketika beristirahat sebentar, pemandangan di belakang kami, perbukitan gunung Semeru seperti mengurangi lelah.

Puncak Mahameru 3.676 mdpl

Puncak sudah sangat dekat. Langkah pun semakin cepat karena semangat. Sebentar lagi kami tiba di atap Jawa. Pukul 07.10 WIB aku dan Satya menyusul Dion, Didi dan Hilda ke puncak.

Memang tak setinggi gunung-gunung es di Himalaya. Tapi entah kenapa, terharu, mata berkaca-kaca, perasaan bahagia ada euforia. Pendakian ke Gunung Semeru tak hanya menemani Didi dan Hilda latihan, tapi juga bersama sahabat dan juga kekasih.

Summit Day of Mount Semeru 3.676 mdpl with Satya, Didi, Hilda and Dion.
Semeru bersama Dion
Uda lama ngga naik gunung sama ini orang, finally we make it bro..

Angin bertiup sangat kencang, jari-jari tangan mulai terasa nyeri. Lebih baik beristirahat di bawah saja, di balik batu, dekat puncak. Setelah berfoto kami turun. Seketika terdengar suara dentuman keras dari arah kawah. Kami berhasil terkejut. Terjadi sebuah letusan Wedus Gembel atau awan panas yang bergulung-gulung. Hal ini masih sering terjadi karena memang Gunung Semeru merupakan gunung berapi yang masih aktif. Momen langka tersebut diabadikan dengan kamera. Kemudian kami bergegas turun. Kembali ke Kalimati, lalu Ranu Kumbolo.

Get relax in the morning at Ranu Kumbolo.

Selain mendaki ke puncak Gunung Semeru, menikmati Danau Ranu Kumbolo adalah hal yang paling dinantikan. Buatku Ranu Kumbolo begitu menenangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s