Hari Natal di Lembah Kasih Mandalawangi, Gunung Pangrango (3.019 mdpl) – Jawa Barat

Atan Tya - Background Gunung Pangrango

Saya dan Satya memanfaatkan kondisi musim kemarau yang berkepanjangan pada tahun 2015 yang lalu untuk jalan-jalan . Mulai dari menyusuri pantai di selatan Jawa Barat sampai merayakan hari Natal di Mandalawangi, Gunung Pangrango.

Something bring me and Satya here. It’s the first mountain for us. We ready to start the day. So let’s climb the mountain together.

“Yang penting kita naik gunung”, ujarku ke Satya.

“Iya kita belum pernah naik gunung bareng yaa, yuk naik gunung kita Bang”, Satya terlihat bersemangat sekali.

Intinya kami ingin mendaki gunung saat itu. Rencananya ingin mendaki gunung Papandayan, Gunung Ciremai, atau Gunung Gede, namun akhirnya kami mendaki gunung Pangrango.

Setelah selesai mengikuti misa Natal di salah satu gereja di Jakarta pada 24 Desember 2015, malam itu kami berangkat ke arah Puncak, Bogor. Egie dkk ternyata akan mendaki Gunung Gede besok paginya. Mereka sudah di kaki gunung. Kami akan bergabung dengan mereka dan mendaki bersama-sama sampai Kandang Badak, titik camp terakhir sebelum ke puncak, itu rencananya. Segala perlengkapan pribadi dan tim sudah kami persiapkan, kecuali konsumsi selama mendaki gunung yang rencananya akan di beli di perjalanan nanti.

Subuh 25 Desember 2015 kami sampai di Cibodas, salah satu gerbang masuk pendakian ke Gunung Gede Pangrango dan merupakan jalur termudah untuk mendaki ke Pangrango. Egie dkk sudah menunggu di Montana, pondok sukarelawan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) dekat dengan pos pemeriksaan simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi). Langkah kami percepat, mereka sudah lama menunggu. Sesampainya di Montana, hanya ada Jerry dan beberapa porter yang sedang mem-packing perlengkapan tim. Egie dan yang lainnya sudah berjalan lebih dulu. Setelah selesai bercengkerama sebentar, kami pun melanjutkan perjalanan menyusul teman-teman yang lain.

IMG_8414

Jalur pendakian Gunung Gede Pangrango via Cibodas.

Suasana pagi itu menenangkan. Sinar matahari menembus celah-celah pepohonan. Kami kembali ke alam untuk menikmati udara segar dan memanjakan mata dengan hijaunya hutan. Langit sangat cerah. Pagi yang nikmat.

Setelah melewati pos pemeriksaan simaksi, jalur yang kami tempuh berupa susunan batu beraturan yang membentuk anak tangga. Saya, Satya dan Jerry mengobrol di sepanjang perjalanan sampai akhirnya kami menyusul Egie dkk di pos Telaga Biru. Satu jam perjalanan menuju Telaga Biru. Disebut Telaga Biru karena banyak ganggang air tawar berwarna biru. Dan di sana juga masih banyak ikan.

IMG_8409

Ketika beristirahat di tengah perjalanan.

Suasana menjadi sangat ramai. Ada Egie, Bundo Radjoem, Racha, Alle, Mas Alif dan beberapa teman-teman Bundo saat itu. Kami bersalaman, bercengkrama dan melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari Telaga Biru kami sampai di jembatan yang berdiri di atas rawa Gayonggong. Langit yang tertutup pohon-pohon menjadi terbuka. Kami dapat melihat gunung Pangrango dari sini. Sangat gagah. Dan sudah pasti, seperti biasa. Setiap orang tak mampu menahan diri untuk tidak berfoto. Mengabadikan keindahan pemandangan hari itu. Kami pun melanjutkan perjalanan. Di setiap pos peristirahatan kami menikmati cemilan-cemilan. Di sepanjang perjalanan kami bersenda-gurau.

IMG_8380

Gunung Pangrango (3.019 mdpl)

Ingin mengenal seseorang lebih jauh dan dalam, ajaklah dia mendaki gunung. 

Matahari sudah di atas kepala, sedang bersembunyi di balik awan. Setelah makan siang, saya dan Satya berpisah dengan tim yang lain. Karena tujuan kami berbeda. Egie dkk berencana mendaki Gunung Gede sedangkan Saya dan Satya mendaki ke Pangrango. Kami ingin ke Mandalawangi.

Sesampainya di Kandang Badak saya dan Satya beristirahat sebentar dan me-refill botol dengan air dari pancuran. Sudah pukul 16.00 sore. Perjalanan akan sangat panjang menuju Mandalawangi.

Tak ingin membuang waktu, kami melanjutkan pendakian. Satya berjalan di depan saya. Kurang dari 10 menit berjalan dari Kandang Badak kami tiba di pertigaan ke Puncak Gede dan Pangrango. Jalur berubah menjadi setapak kecil yang landai melipiri punggungan hingga tiba di saddle di antara dua puncak Gede dan Pangrango. Di sepanjang jalur kami harus melewati rintangan berupa pohon-pohon tumbang. Untuk melewatinya kami jongkok dan menunduk atau juga sedikit memanjat dan melompati pohon-pohon tumbang tersebut. Semakin lama jalur menuju Pangrango semakin curam dan licin karena tanah yang mudah tergerus. Berjalan setengah jam, kemudian beristirahat sekitar 5 menit. Niat dari awal untuk melihat matahari terbenam di Mandalawangi pupus sudah. Badan sudah lelah. Kami sudah berjalan hampir 8 jam. Tapi yang terpenting perjalanan masih tetap ceria. Lelah menghilang oleh canda tawa.

IMG_8466-01 (2)

Pemandangan Gunung Gede (2.958 mdpl) dari jalur menuju Gunung Pangrango (3.019 mdpl)

Tak dapat melihat matahari terbenam di Mandalawangi, kami disuguhkan oleh pemandangan yang tak kalah indah di perjalanan. Semburat awan berwarna kemerahan dari balik Gunung Gede terlihat di seberang sana, seperti lukisan dengan bingkai pohon-pohon.

Hari sudah gelap. Kami mengeluarkan headlamp. Kami berjalan sangat lambat. Apalagi jalur ke puncak semakin curam.

“Masih jauh ya, Bang?”, pertanyaan Satya beberapa kali tercetus.

“Udah ayok jalan saja, sedikit lagi sampai. Sabar yaa”, sepenggal perbincangan di antara kami ketika beristirahat. 

Kami tiba di Puncak Pangrango pukul 20.00 malam. Kemudian kami lanjutkan berjalan turun ke arah Mandalawangi, hanya beberapa menit saja. Di Mandalawangi sudah berdiri beberapa tenda. Terdengan suara mereka sedang asik ngobrol. Mungkin sedang masak dan makan malam.

Kami pun memilih lokasi tenda dekat dengan mereka. Dekat juga dengan sumber mata air. Tenda didirikan. Alat masak dikeluarkan. Satya kelihatan sudah sangat lelah. Begitu juga dengan saya. Setelah selesai makan malam, kami pun beristirahat.

Kabut menutupi Mandalawangi. Matahari pagi baru datang di atas pukul delapan. Saya sudah terbangun sejak tadi, menunggu matahari terbit dari balik puncak Pangrango. Sedangkan Satya masih lelap di dalam kantung tidurnya. Sedikit-demi sedikit kabut menghilang. Aku membangunkan Satya. Kami berjemur di antara padang edelweiss menikmati hangatnya mentari. Kami memasak, membaca buku, memotret dan bercerita.

Seusai makan siang kami turun kembali ke kaki gunung dan bergabung dengan Egie dkk.

Yuk, naik gunung lagi!!!

IMG_8606

 

 

 

Advertisements