Detik-detik Pencapaian Puncak Everest (8.848 mdpl) – Nepal

-Mei 2011-

Dua ratusan pendaki  akan bergerak ke puncak Everest tengah malam nanti. Sofyan, Frans, Saya dan Broery sudah berada di Camp IV atau dikenal dengan istilah death zone, dimana manusia tidak dapat bernapas dengan normal karena kandungan oksigen di udara sangat tipis. Bantuan oksigen dari tabung sangat  membantu. Malam itu langit berbintang. Langit sangat cerah. Kami sedang beristirahat di dalam tenda. Berusaha untuk tidur.

Alarm berbunyi. Sudah pukul 09.00 malam waktu Nepal. Saya baru saja bisa tertidur pulas kurang dari tiga jam yang lalu. Kami segera bersiap-siap. Perlengkapan summit dimasukkan ke dalam carrier. Kami mengisi perut dengan nasi putih, rendang dan kentang kering. Setelah selesai menggunakan sepatu, saya keluar tenda. Antrian pendaki terlihat begitu jelas dari Camp IV. 200-an manusia sedang mengejar mimpinya untuk menginjakkan kaki di puncak tertinggi di dunia itu. Begitu juga kami wakil dari Indonesia.

Sesaat suasana menjadi hening. Kami berdoa meminta perlindungan dari-Nya, agar kami sampai di puncak dan turun ke base camp  dengan selamat. Karena mendaki gunung bukan hanya berbicara tentang keberhasilan mencapai puncak, tapi juga membicarakan keberhasilan pulang ke rumah bukan?

Setiap pendaki berpasangan dengan seorang Sherpa untuk mendaki ke puncak Everest. Sherpa adalah suku bangsa Nepal yang hidupnya berada di pegunungan Himalaya. Mereka bekerja sebagai pemandu ke puncak-puncak di Pegunungan Himalaya. Seorang Sherpa bertugas memastikan pendaki sampai di puncak dan kembali ke Camp IV dengan selamat. Pada Mei 2011 yang lalu, saya di dampingi oleh Sherpa bernama Gyaldzen Dorji Sherpa. Umurnya baru 17 tahun. Dia sudah beberapa kali membantu pendaki lain ke puncak. Pemuda yang hebat.

Gyaldzen berjalan di belakang saya. Dia selalu menanyakan kondisi saya, memastikan semuanya baik-baik saja. Setelah berjalan sekitar satu jam, barisan berhenti berjalan. Kami hanya bisa berdiam menunggu pendaki yang di depan berjalan. Semakin lama badan saya terasa semakin dingin. Tak berapa lama, di sebelah kiri saya pendaki-pendaki lain berjalan mendahului. Mereka berjalan tanpa terhubung dengan tali pengaman yang ada di jalur yang kami lalui. Mereka dari Himalayan Experience. Saya dan Gyaldzen bertatapan seakan berisyarat. Gyaldzen kemudian mengarahkan pandangannya ke para pendaki yang mendahului kami tersebut dan bertanya kepada saya. Apakah kamu mau mengikuti mereka? Kemudian saya member isyarat setuju dengan menganggukkan kepala saya. Kami melepaskan pengaman dari tali yang ada di jalur utama. Kami mengikuti jalur ‘dadakan’ yang dibuat oleh pendaki dari Himalayan Experience. Saya dan Gyaldzen saling terhubung tali. Saya berjalan di belakang Gyaldzen. Kami berjalan dengan sangat berhati-hati agar tidak tergelincir. Saya berkonsentrasi penuh disetiap langkah.

Di Balcony, Gyaldzen membantu saya mengganti tabung oksigen yang lama dengan yang baru. Kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pendakian. Kami berjalan di ridge. Kiri dan kanan jurang. Sesekali hembusan angin terasa menyentuh kulit melalui celah-celah pakaian. Kami pun tiba di South Summit. Batas langit dan bumi terlihat jelas. Dari sini saya melihat garis horizon melengkung berwana kemerah-merahan. Sebentar lagi matahari akan terbit. Dari South Summit sudah terlihat puncak yang ingin kami tuju, puncak Everest. Saya mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tas dan baterai dari dalam saku. Kamera dan baterai sengaja dipisah agar baterai tidak habis oleh dinginya suhu. Saya sangat kesulitan menggunakan kamera karena saya menggunakan sarung tangan mitten. Saya mengambil risiko melepaskan mitten dari tangan sebentar saja. Kamera DSLR terasa sangat dingin. Saya mengambil beberapa jepret foto. Akhirnya saya berhenti mengambil gambar karena jari-jari tangan saya mulai terasa perih karena suhu  dingin dari kamera. Saya memasukkan kamera ke dalam tas dan baterai ke dalam saku. Terlalu asik mengambil foto, saya tak memperhatikan mitten yang menggantung kemasukan butiran-butiran salju. Kepanikan muncul ketika tangan saya mulai terasa sangat dingin dan perih. Saya mengibas-ngibaskan tangan ke paha. Saya mengganti sarung tangan mitten dengan glove.

IAN_0882

Foto ini diambil ketika berpapasan dengan Sofyan dan Frans.

Satu tas kecil tertinggal di Camp IV. Isinya makanan,goggle dan kaca mata. Saya tersadar ketika ingin mengambil kaca mata. Saya mencari lagi di setiap kantong-kantong carrier namun tidak ada. Di kejauhan Broery sudah hampir sampai di puncak. Kami berkomunikasi dengan handy talky. Broery membawa goggle dan kaca mata. Hal tersebut membuat perasaan saya tenang kembali.

‘Hillary Step’ adalah titik pendakian yang membuat saya penasaran sekaligus “was-was”. Kenapa tidak, dari cerita-cerita pendaki, Hillary Step merupakan titik yang sulit untuk dilewati, sebuah tebing batu setinggi lebih kuran 5-7 meter. Antrian sudah terlihat, saya memperhatikan cara-cara setiap pendaki melewati titik tersebut. Namun sungguh tidak seperti yang saya bayangkan, saya dapat melewatinya tanpa kesulitan yang lebih. Saya menghembuskan napas panjang dan melanjutkan pendakian. Puncak Everest sudah di depan mata. Tinggal beberapa ratus meter lagi. Ketika perjalanan turun Broery memberi kaca mata nya. 

“Hati-hati lu Co dikit lagi, sampai ketemu di bawah kita”. 

Kami pun bersalaman dan berpelukan sebelum melanjutkan pendakian.

IAN_0858

Berfoto di puncak Everest bersama Gyaldzen..

Akhirnya saya sampai di puncak Everest pada pukul 6.11 waktu Nepal. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Thanks God.

Setelah selesai mengabadikan momen di puncak, saya turun ke Camp 2. Di perjalanan turun saya berpapasan dengan Sofyan dan Frans. Dan pada akhirnya kami berempat berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di titik tertinggi itu dan kembali ke ‘rumah’ dengan selamat.

Advertisements