Percobaan Kedua di Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) – Argentina

10a Puncak Aconcagua1

Sofyan, Broery dan Frans mencapai puncak Aconcagua pada 9 Januari 2011.

Summit Acon 1

Akhirnya sampai juga di puncak Aconcagua pada 29 January 2011.

-Januari 2011-

Gunung Aconcagua yang berada di jajaran pegunungan Andes merupakan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Everest di Nepal dari tujuh gunung tertinggi di tujuh benua. Gunung Aconcagua yang berada di Argentina ini menjadi target kami pada Januari 2011 yang lalu. Rasa percaya diri perlahan tumbuh setelah kami berhasil mendaki tiga gunung pencakar langit sebelumnya yaitu Carstensz Pyramid di Papua, Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Gunung Elbrus di Eropa. Kepercayaandiri itulah salah satu modal kami untuk mendaki Gunung Aconcagua yang lebih tinggi dan lebih berbahaya.

Masih ada empat gunung lagi yang harus kami daki agar pencapaian sebagai the seven summiteers disebut berhasil. Bukan perjalanan yang singkat dan mudah. Banyak hal yang dipertaruhkan, waktu, tenaga, pikiran dan perasaan sampai akhirnya pada 7 July 2011 kami dapat menyelesaikan ekspedisi ini.

Mendaki gunung Aconcagua sendiri tidaklah mudah. Kisah-kisah kegagalan pendakian Gunung Aconcagua yang sebelumnya, salah satunya kisah alm. Norman Edwind dan Diediek Samsu asal Mapala Ui yang terkena musibah pada tahun 1992, menjadi pelajaran yang penting dalam usaha kami mendaki ke puncak Gunung Aconcagua.

Selain el viento blanco (badai salju) penyakit ketinggian seperti accute mountain sickness (AMS) adalah musuh besar yang harus dihindari oleh para pendaki gunung high altitude, karena dalam kondisi tertentu, AMS dapat merenggut nyawa.

Dari Indonesia, kami berenam berangkat menuju Argentina. Waktu itu ada Sofyan, Frans, Saya, Broery sebagai pendaki utama dan Max Agung dan Detri sebagai tim pendukung dalam ekspedisi ini. Tidak ada kendala yang begitu menghambat selama di perjalanan menuju base camp Plaza Argentina. Masalah mulai muncul ketika melakukan aklimatisasi dari base camp ke Camp 1, Detri “tumbang”,tidak dapat melanjutkan lagi pendakian ke camp berikutnya. Detri terserang AMS, kepalanya pusing, mual-mual dan tidak selera makan. Kondisinya mulai melemah. Sampai akhirnya Detri terpaksa dievakuasi ke kaki gunung menggunakan helicopter agar kondisinya membaik. Karena itu adalah cara terbaik menanggulangi gejala AMS, turun dari ketinggian secepatnya. Tinggallah kami berlima.

Dokter melihat ada kejanggalan pada tubuh saya dan Frans, ada kemungkinan kami juga tidak dapat melanjutkan pendakian. Sebelum pendakian besok, kami berdua diwajibkan untuk melakukan cek medis lagi. Masih ada kesempatan besok hari pikir saya. Dokter menganjurkan kami untuk meminum banyak air malam itu supaya badan tidak kekurangan cairan.

Keesokan harinya, saya dan Frans kembali melakukan tes medis di pos kesehatan. Frans ternyata sudah lebih membaik, sementara dokter menyatakan saya masih belum dapat melanjutkan pendakian ke Camp 1, apalagi ke puncak Aconcagua. Berdasarkan analisa dokter, ketika saya bernapas, di paru-paru saya masih terdengar suara asing seperti kemarin. Mungkin ini AMS. Menurut dokter, bila dipaksakan terus ke tempat yang lebih tinggi akan semakin parah, bahkan bisa berakibat fatal yang membawa kematian. Padahal saya merasa kondisi tubuh saya saat itu sangat baik. Sungguh kecewa rasanya, padahal oksimeter menunjukkan angka 94, artinya kadar oksigen dalam darah saya 94 persen dan itu sangat baik. Oksimeter adalah perangkat kecil pada medis yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah.

Saya masih berjuang di pos medis. Sofyan, Frans, Broery dan Agung melanjutkan perjalanan menuju Camp 1. Dengan berat hati dokter Gabriella mengatakan bahwa saya tidak dapat melanjutkan pendakian, walaupun mencoba ke Camp 1.

Riwayat pendakian saya ke puncak Aconcagua sementara terputus di sini. Mungkin belum waktunya. Untuk sementara fokus saya berada pada keempat teman yang melanjutkan perjalanan ke puncak. Lebih baik saya menjaga kondisi tubuh sambil menjaga komunikasi antara ke empat teman dan tim Bandung. Setelah berkomunikasi dengan tim Bandung, ternyata saya diberi kesempatan untuk mendaki lagi nanti. Demikianlah, 20 hari kemudian saya memiliki kesempatan untuk mendaki Gunung Aconcagua lagi namun dengan tim yang berbeda.

Selama di base camp saya mencoba untuk lebih intens bersosialisasi dengan orang-orang. Dengan manajer base camp, pemandu lain, porter, dan tukang masak maupun paramedis. Bukan kebiasaan saya untuk bersosialisasi dengan orang lain. Biasanya karena ada teman-teman jadi saya cenderung lebih pasif. Kondisi ditinggal sendiri membuat saya harus memutar otak bagaimana caranya berteman dengan orang-orang di base camp. Cukup akrab dengan orang-orang di base camp memiliki nilai positif juga

 “Recovery” dan “Summit” Lagi

Di siang hari yang cerah di kota Mendoza, saya bergabung dengan tim pendaki gabungan dari mancanegara di Hotel Condor Suites. Total anggota dalam tim ini berjumlah 12 orang. Dua orang berasal dari Kanada, dua orang dari AS, sepasang orang dari Inggris, seorang dari Skotlandia, seorang dari Perancis, dan saya sendiri dari Indonesia, ditambah tiga orang pemandu yaitu Julver, Javier dan Paula asal Argentina. Dari Mendozaa kami berangkat menggunakan bus menuju Penitentes, kota kecil di kaki gunung. Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam, kami pun tiba di Penitentes. Pemandangan gedung-gedung kini berubah menjadi bentangan pegunungan Andes yang memukau.

Perjalanan dari Penitentes menuju base camp Plaza Argentina kali ini menjadi perjalanan kedua setelah saya gagal pada percobaan pertama mendaki bersama teman-teman satu tim dari Indonesia. Pada 22 Januari 2011 sekitar pukul 10 waktu setempat, kami bergegas ke pos kesehatan untuk melakukan cek medis. Dari kami bersembilan, saya mendapat giliran terakhir untuk bertemu dokter. Akhirnya tiba giliran saya. Hanya kami bertiga di dalam ruangan itu. Dokter Gabriella, pemandu Julvier, dan saya. Dengan menggunakan pulse oximetri, dokter mengecek kadar oksigen, hasilnya 94 persen. Selanjutnya dokter memeriksa paru-paru dengan stetoskop. Vonis dokter sebelumnya yang menyatakan bahwa adanya cairan di paru-paru saya sekarang tidak ada lagi. Berarti saya dapat melanjutkan pendakian lagi besok menuju Camp 1. Saat itu perasaan saya teramat lega.

Rombongan kami berjalan sesuai jadwal harian, lalu tiba di Base Camp (BC) Plaza Argentina, serta mulai melakukan drop logistic ke Camp 1 di ketinggian 5.000 m, lalu kembali ke BC. Selain untuk mencicil barang, pendakian ke Camp 1 juga berfungsi untuk aklimatisasi di ketinggian sekitar 5.000 m. Kami berjalan selama lima jam perjalanan ul;ang-alik dari BC Plaza Argentina ke Camp 1. Jarak yang cukupan bagi saya karena telah aklimatisasi sebelumnya.

Awalnya kami ber-12 berjalan dalam satu barisan, Robert dari Perancis yang juga teman setenda saya mulai terpisah dari barisan. Langkahnya semakin lambat. Sesampai di Camp 1 jarak kami dengan Robert menjadi sekitar 15 menit perjalanan.

Di Camp 1 perlengkapan pendakian kami simpan di dalam kantong plastic besar, setelah beristirahat sekitar 10 menit sambil makan dan minum, kami kembali ke BC. Kami semua tiba di BC, kecuali Robert yang berjalan sangat lambat, di temani oleh pemandu Julvier dan Javier. Kondisi Robert semakin buruk, sore harinya dia dibawa ke pos medis dan diperiksa dokter Gabriella, ternyata oksigen dalam tubuhnya sekitar 64 persen yang berarti sangat buruk, jauh dari standar di atas 80 persen.

Keesokan harinya Robert diperiksa lagi, nampaknya kondisi Robert tidak membaik. Saya yang setenda dengan Robert sulit tidur nyenyak karena terganggu suara batuk dan dengkurannya. Akhirnya setelah dokter memutuskan, Robert turun dievakuasi dengan helicopter. Kami mengucapkan salam perpisahan dengan Robert. Rombongan kehilangan seorang teman mendaki hari ini, entah siapa esok hari. Kini kami tinggal bersebelas.

Naik-naik ke Puncak Gunung

Matahari terbit di Independencia

Sejak awal pemandu menyarankan kami untuk menggunakan porter membawa barang dari tiap camp ke camp selanjutnya. Sebagian setuju memakai jasa porter dan bayaran upahnya, sedangkan tiga lainnya termasuk saya tetap membawa barang kami sendiri, mengingat biaya, selain merasa masih mampu membawanya.

Namun, akhirnya ini menjadi masalah bagi kami bertiga (khususnya saya sendiri). Pada saat perjalanan dari Camp III, pemandu memutuskan esok harinya untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Colera Camp-camp sebelum puncakkarena alasan cuaca. Perubahan jadwal itu sebenarnya menyenangkan karena akan lebih cepat summit-nya. Namun ini berarti kami kehilangan waktu istirahat di Camp III.

Jadilah kami menuju Colera Camp dan langsung beristirahat di dalam tenda karena esok harinya summit attack. Sudah pukul 19.00. saya mencoba untuk tidur, tetapi sangatlah sulit untuk terlelap. Mata sudah terpejam namun pikiran melayang-layang entah kemana. Saya mencoba membaca buku. Dengan harapan mata menjadi lelah dan dapat tertidur. Namun, usaha tersebut tidak berhasil. Saya sedikit panic karena esok pagi kami akan melakukan summit attack. Saya mencoba untuk melakukan meditasi dan berkonsentrasi. Pukul 01.30 saya dapat tertidur dengan nyenyak.

Hanya tidur beberapa jam, pukul empat subuh kami harus bangun lagi, bersiap-siap untuk melancarkan serangan ke puncak Aconcagua. Setelah makan beberapa biscuit dan minum teh manis dan berpakaian lengkap dengan crampon, saya keluar dari dalam tenda. Pukul 5.00, kami siap untuk berjalan, headlamp di kepala kami dengan gagah menerangi jalan yang pada saat itu sangat gelap tanpa sinar bulan dan bintang.

Tak disangka baru berjalan selama 45 menit, Inggris yang bersama kami menyerah, memilih kembali ke Colera Camp sendirian. Tinggallah kami bersepuluh sekarang.

Salju yang berwarna putih berubah menjadi kemerah-merahan terkena sinar matahari yang datang dari arah timur. Suhu mulai naik dan kami melepas downjacket agar tidak berkeringat. Terkadang angin yang dingin terasa masuk menyentuh kulit.

Julver yang pemimpin pemandu kelihatan seperti kurang “sreg” dengan kecepatan jalan kami sebagai tim. Beberapa lama sebelum sampai di Refugia Independencia, pemandu memutuskan untuk membagi tim menjadi dua bagian. Tim pertama terdiri dari tiga pendaki bersama dua orang pemandu, Julver dan Javier, dan tim kedua terdiri dari empat pendaki bersama seorang pemandu wanita bernama Paula. Saya berada di tim pertama.

Pergerakan pun menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Kami meninggalkan tim kedua jauh di belakang, di mana akhirnya tim kedua memutuskan untuk mundur setelah sampai di Independencia. Tentunya ini keputusan pemandu. Alasannya karena mereka tidak akan mungkin sampai di puncak tepat waktu. Jika terlambat sampai di puncak, akibatnya akan sangat berbahaya ketika turun ke Colera Camp di tengah cuaca yang buruk.

Ketika tiba di ketinggian 6.400 m, langkah mulai melambat, kadar oksigen semakin menipis di udara. Kami semakin sering berhenti untuk beristirahat untuk menarik nafas dan mengisi tubuh dengan air minum serta sedikit makanan. Saya kagum melihat Ray, salah satu peserta dalam tim, pria berumur 51 tahun asal Inggris. Dia terlihat sangat prima, masih mampu menebar senyuman dan menanyakan keadaan kami masing-masing. Konon dia memang mendalami ilmu tai chi, yang menguasai ilmu pernapasan.

Dia mampu menularkan semangatnya. Apalagi sebelumnya kami telah berlatih yoga dan physical training lainnya sebelum ke gunung yang satu ini.

197844_10150429191755468_515950467_17458352_2578959_n

Setelah hamper 8 jam berjalan, akhirnya kami sampai di puncak Aconcagua pukul 12.53 pada 29 Januari 2011. Kami tergeletak beberapa saat di atas hamparan salju yang sangat dingin di puncak. Kemudian setelah membuat beberapa foto kami kembali ke Colera Camp.

Saya sempat menanyai Ray mengenai betapa kuatnya dia sampai di puncak. Dia menjawab sambil menaruh jari telunjuknya tepat di bagian kepala sisi kanan dan berkata, “Semuanya ada di pikiranmu. Kaki saya tidaklah kuat, tapi pikiran sayalah”. Satu pelajaran penting.

Setelah tiga jam berjalan, akhirnya kami sampai di Colera Camp. Lima personel tim ternyata sudah melanjutkan perjalanan turun ke BC Plaza de Mulaz. Kami tidak menemukan tenda mereka lagi. Karena sangat kelelahan, kami bertiga langsung masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat setelah memakan sedikit cokelat sebagai makan malam.

“Pesta Beef dan Beer”

Keesokan harinya kami berjalan turun dari Colera Camp menuju BC Plaza de Mulas. Memang kami sengaja memilih jalur ini. Bir, wine, dan beef disuguhkan sebagai perayaan pendakian kami malam itu. Suasana BC Plaza de Mulas lebih meriah daripada BC Plaza Argentina.

Keesokan harinya pukul 10.00, kami berjalan cukup jauh ke Penitentes. Di Confluencia kami disambut oleh Kak Sani, Kak Andi, dan Hiro dengan bir. Mereka sudah tiga hari di Confluencia untuk aklimatisasi, siap untuk perjalanan 8 jam menuju BC Plaza de Mulas esok harinya, dengan kadar oksigen 93 persen. Pertemuan berlangsung sekitar 40 menit, kami pun melanjutkan perjalanan. Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di jalan raya, dilanjutka ke Penitentes dengan minibus yang telah disediakan oleh INKA.

2e Daniel Lopez Tent

Suasana di Base Camp Plaza Argentina.

196950_10150429198105468_515950467_17458460_4347683_n

Suasana di Base Camp Plaza de Mulaz

Advertisements