Bersepeda ke Puncak Gunung Kosciuszko (2.228 mdpl), Titik Tertinggi Benua Kangguru – Australia

IMG_3405

Mengapa gunung Kosciuszko bukan menjadi gunung tertinggi di Australasia? Bukankah puncak gunung Kosciuszko adalah titik yang tertinggi di dataran Kangguru tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini sering sekali muncul di mata para pendaki gunung dan masih saja menjadi kontroversi sampai saat ini. Kontroversi ini berawal dari apa yang disebut dengan 7 summits.

Richard Dick Bass, seorang pengusaha kaya asal Amerika Serikat, adalah orang yang pertama kali mengeluarkan ide membuat proyek 7 summits ini. Di kalangan pendaki gunung sendiri siapa sih yang tidak mengetahui proyek ini, sebuah proyek mendaki puncak gunung-gunung tertinggi yang ada di tujuh benua. Dick Bass sendiri akhirnya berhasil menyelesaikan 7 summits. Dia menggenapinya setelah pada tahun 1985 mendaki Gunung Kosciuszko untuk mewakili puncak tertinggi benua Australia. Namun, seorang pendaki terkenal asal Italia yang bernama Reinhold Messner menentang daftar 7 summit yang dimiliki oleh Dick Bass tersebut. Messner berpendapat bahwa Gunung Carstensz Pyramid yang ada di Papua lah yang seharusnya mewakili gunung tertinggi di Australia. Pada jaman prasejarah, pulau Papua dan benua Australia adalah satu bagian yang tidak terpisah seperti yang kita ketahui sekarang. Akibat pergerakan kerak bumi dalam waktu yang sangat lama, keduanya terpisah menjauh sampai sekarang. Namun, di dasar lautan sana lempeng Papua dan Australia masihlah menyatu. Ini adalah satu-satunya alasan mengapa Messner memilih Carstensz Pyramid dalam daftarnya sebagai yang tertinggi. Sampai sekarang, daftar yang dibuat Messner ini menjadi lebih populer. Bahkan sangat populer. Di mana Patrick Morrow (Kanada) menjadi orang pertama yang menyelesaikannya pada 7 Mei 1986. Dan tidak sedikit juga yang memilih mendaki kedua gunung tersebut, yang sekarang sering disebut Seven Summits versi 7+1.

Setelah menyelesaikan 7summits versi Messner yang disusun dalam “Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala-Unpar”, Mahitala terinspirasi lagi untuk mendaki Gunung Kosciuszko (versi Bass), walaupun Gunung ini hanya memiliki ketinggian 2.228 mdpl yang jauh lebih rendah dibanding gunung-gunung 7 summits yang lain dan jika dilihat dari tingkat kesulitan pun gunung ini bisa dibilang sangat mudahlah untuk didaki. Namun, perjalanan kali ini sengaja dirancang berbeda dibanding pendakian gunung-gunung sebelumnya. Bersepeda ke puncak tertinggi di benua Kangguru diharapkan membuat perjalanan akan semakin menarik dan lebih menantang. Hal ini yang selalu saja ditanamkan di Mahitala ketika ingin melakukan ekspedisi atau perjalanan ke alam bebas.

Sebagian besar wilayah dataran Australia merupakan daerah yang gersang dan kering terutama bagian tengahnya yang terdiri dari gurun yang luas. Gunung Kosciuszko sendiri berada di bagian tenggara benua ini lebih tepatnya termasuk dalam provinsi New South Wales (NSW) yang beribukota di Sydney. NSW sendiri beriklim subtropis basah dengan musim panas yang hangat dan musim dingin yang sejuk.

DSC_0745-camping ground

Kota Sydney kami gunakan sebagai titik awal perjalanan darat menuju kaki Gunung Kosciuszko. Selain Kota Sydney, sebenarnya kota Melbourne yang tepat berada di selatan Australia juga dapat digunakan sebagai alternative lain untuk memulai perjalanan darat. Jarak Sydney-Kosciuszko dan Melbourne-Kosciuszko lebih kurang sama. Pertimbangan memilih kota Sydney adalah biaya penerbangan dari Jakarta ke Sydney yang lebih murah, dan memang jaraknya juga lebih dekat. Untuk sampai di kaki gunung, jarak yang harus ditempuh masih sejauh lebih kurang 500 km. Sebagai perbandingan, jarak ini sama dengan jarak dari ujung timur pulau Jawa ke ujung baratnya. Untuk sampai di kaki gunung, kami memilih mengendarai mobil yang disewa dibandingkan menggunakan alat transportasi umum. Dengan biaya rental mobil sekitar 1 juta per hari, selain menghemat pengeluaran dan waktu, pergerakan selama di Ausralia pun lebih fleksibel. Peralatan yang kami bawa pun terhitung sangat banyak dan bervolume besar yang salah satunya adalah sepeda. Di mana jika menggunakan alat transportasi umum seperti kereta api atau bus akan sangat merepotkan membawanya. Jadi, keputusan menyewa mobil adalah yang paling tepat melihat pertimbangan-pertimbangan tadi. Tantangan juga bertambah ketika harus mengendarai mobil karena aturan yang berlaku serta kondisi lalu-lintas di negeri kangguru ini berbeda dengan Indonesia. Namun, akan beresiko juga jika terjadi kecelakaan karena kami tidak terbiasa dengan kebiasaan berkendara di sana. Di sinilah sangat dibutuhkan tingkat kedisiplinan, kewaspadaan dan perhatian yang lebih terhadap lingkungan yang baru.

IMG_3472 Puncak.JPG

Tiba di Puncak Gunung Kosciuszko (2.228 mdpl), NWS, Australia

Selama berada di Taman Nasional Kosciuszko, kami memilih untuk bermalam di dalam tenda daripada hotel di kota Jindabyne, yang berjarak lebih kurang 30 menit perjalanan dengan mobil. Bermalam di dalam tenda adalah satu cara untuk menghemat biaya. Namun, tidak semua tempat di taman nasional ini dapat digunakan sebagai lokasi perkemahan. Hanya ada beberapa lokasi saja yang tersedia. Setelah mencari tempat yang cocok, kami memilih Island Bend camping ground.

Suasana malam adalah suasana yang selalu saja ditunggu-tunggu ketika mendaki gunung tropis. Kami akan berkumpul dan duduk mengelilingi api unggun melawan dinginnya malam. Terkadang lantunan lagu yang keluar dari speaker portable yang kami bawa kalah kerasnya dibanding suara kami yang “merdu”. Suasana malam yang tidak akan pernah ditemukan di keramaian dan gemerlapnya cahaya kota. Malam saat berada di Island Bend adalah malam yang berbeda. Ternyata kami tidak sendiri. Di kejauhan pasangan-pasangan mata yang berwarna merah sedang memperhatikan kami. Terkadang kami mengarahkan cahaya head lamp ke arah mereka. Terlihatlah beberapa kangguru kecil yang tingginya sekitar 1 meter. Semakin malam, jumlah kangguru yang terlihat semakin banyak jumlahnya. Jarak mereka pun semakin dekat seakan berharap akan mendapatkan makanan dari kami.

Ketika matahari masih bersembunyi dan angin di luar sana masih terasa sangat dingin, alarm handphone seakan berteriak memaksa kami bergegas bangun agar bersiap-siap memulai pendakian ke puncak Kosciuszko, padahal badan ini masih ingin merasakan kehangatan yang ada di dalam kantong tidur. Jam delapan pagi. Dari Island Bend, kami berempat berangkat menuju Charlotte Pass yang berjarak 45 menit. Charlotte Pass merupakan titik awal bagi setiap orang untuk melakukan pendakian ke puncak Kosciuszko. Suasana pagi itu sepi, hanya ada sebuah mobil dan beberapa orang yang terlihat di Charlotte Pass. Tibalah saatnya untuk merakit sepeda yang selama ini di packing di belakang mobil. Roda-roda dipompa, memastikan angin di dalamnya cukup, kemudian dipasang ke badan sepeda. Pompa, ban dalam cadangan, perkakas sepeda, bendera, botol minum, makanan, kamera, dipastikan lagi berada di dalam tas punggung kecil yang kami kenakan. Helm sudah menempel di kepala dan sepeda siap untuk ditunggangi ke puncak. Dari kejauhan tidak terlalu jelas yang mana puncak Kosciuszko. Bentuknya tidak seperti gunung yang biasanya kerucut yang dari dasar menjulang tinggi ke puncak. Lebih terlihat seperti gunung Salak di Jawa Barat yang dilihat dari kejauhan tapi dipotong ¾ bagian atasnya. Ini salah satu alasan mengapa kami memilih mengayuh sepeda ke puncaknya.

Diam berarti dingin. Karena angina berhembus kencang. Bergerak adalah satu-satunya cara melawan dingin tersebut. Diperkirakan suhu pagi itu sekitar 5 derajat Celcius, tiupan angin dapat dirasakan mengenai kulit, menembus 2 lapis pakaian tipis yang kami gunakan. Rencana awal mengenakan celana pendek pun diganti dengan celana panjang. Sebagian dari kami lebih memilih menutup seluruh bagian wajahnya dengan kain yang biasa disebut buff. Semakin cepat sepeda melaju, angin terasa bertiup semakin kencang.

Terkadang kayuhan juga terasa semakin berat karena angin datang dari arah depan, namun hal yang lebih menyulitkan lagi ketika angin datang dari arah arah kanan, keseimbangan diuji untuk tetap mengayuh lurus mengikuti jalur. Akhirnya kami semua menutup wajah dengan buff. Buff juga membuat udara mulai terasa hangat.

Setelah mengayuh sepeda sejauh setengah perjalanan, jalur semakin curam, salju mulai terlihat bertebaran di sepanjang kiri dan kanan jalur. Awalnya kami lebih memilih melewati lapisan es tersebut, karena ingin “seru-seruan” saja. Tapi capek juga mengayuh sepeda di atas lapisan es. Kami kembali memilih jalur  yang tak ada esnya.

IMG_3433

Tibalah kami di Rawson Pass. Mulailah saatnya kami menuntun sepeda, bukan karena beratnya medan yang dilalui, bukan karena tidak ada lagi tenaga untuk mengayuh sepeda, namun terlebih karena adanya larangan untuk menunggang sepeda dari titik Rawson Pass menuju puncak. Perasaan sangatlah miris ketika melihat sepeda yang harus menganggur untuk dinaiki karena aturan larangan bersepeda tersebut.

Setelah sekitar 45 menit berjalan menuntun sepeda, tiba jugalah kami di titik tertinggi di benua Kangguru itu. Terlihat angka 11.20 pada jam tangan yang sudah dikonversi ke waktu bagian Sydney. Sydney sendiri terpaut waktu 3 jam lebih cepat dari Jakarta. Bersembunyi dibalik batu untuk beristirahat, minum dan makan siang dan menikmati pemandanagan adalah pilihan terbaik setelah berfoto di puncak.

IMG_3475

Saatnya turun dari puncak. Setelah melewati Rawson Pass, sepeda dikayuh lagi. Kami saling berpacu melewati gundukan-gundukan yang ada di jalan. Ada terasa sensasi yang berbeda ketika kedua roda sepeda sedikit melayang di udara. Sampai suatu saat kami harus berhenti karena ban depan sepeda Saya tiba-tiba kempes setelah melewati salah satu gundukan. Kami berhenti karena ban dalam bocor. Ban dalam cadangan dan perkakas dikeluarkan. Setelah selesai mengganti ban dalam, perjalanan pun dilanjutkan kembali. Walau badan sudah agak lelah, kami kembali ke Sydney pada hari itu juga.

Menikmati Kota Sydney Dengan Bersepeda

Menikmati keindahan dan hal-hal menarik di setiap kota persinggahan setelah menyelesaikan target mendaki puncak gunung wajiblah dilakukan walaupun dengan waktu yang minim. Begitu juga ketika berada di Sydney, ada keinginan untuk melihat tempat-tempat yang menarik di sana walaupun tidak secara mendalam. Dan memang karena masih merasa kurang puas bersepeda di gunung, kami menjelajahi kota Sydney dengan sepeda. Opera House yang digunakan sebagai tempat pertunjukan seni seperti teater, balet dan juga merupakan simbol dari kota Sydney adalah tujuan kami. Walaupun hanya dapat melihat dan berfoto berlatar belakang Opera House dari kejauhan saja, sudah puas rasanya berjalan-jalan mengelilingi sebagian kota Sydney hari itu. Hal lain yang tidak kalah menarik di kota Sydney adalah menikmati pemandangan yang tidak lazim dipandang mata. Jalan-jalan di hiasi oleh indahnya pohon mapel yang daunnya berwarna merah dan kuning.  Daun-daun juga berserakan di jalan dan sesekali melayang ke udara oleh hembusan angin musim gugur. Daun pohon mapel adalah lambang yang terdapat di bendera Kanada.

Sydney merupakan salah satu kota yang sangat mendukung orang-orang untuk bersepeda. Di tempat-tempat umum pasti saja tersedia tempat untuk menyimpan sepeda. Di jalan raya sering terlihat para pengendara sepeda berusaha melaju dengan cepat bersaing dengan mobil. Pernah suatu ketika melewati sebuah kampus di sana, puluhan bahkan ratusan sepeda sedang parkir di depannya. Sebuah kebiasaan yang patut untuk ditiru tentunya.

Tiba-tiba saja ban depan sepeda  Broery kempes, padahal jalan di sana sangat mulus dan kemungkinan adanya benda tajam seperti paku sangatlah kecil. Karena tidak membawa perlengkapan cadangan sepeda, terpaksa kami harus mencari lokasi terdekat untuk menambal ban. Kami pun berjalan menuntun sepeda dan mencari-cari tempat tambal ban. GPS dikeluarkan, ada sebuah toko sepeda di pusat kota. Sepeda pun di tuntun di bawah gedung-gedung pencakar langit kota Sydney melewati kerumunan orang-orang yang berjalan kaki setelah pulang kerja.

Setelah menambal ban di sebuah toko sepeda, kami melanjutkan perjalanan. Di depan kami langit sudah berwarna kuning kemerah-merahan. Sepeda dikayuh dengan cepat dan hati-hati. Seakan-akan kami mengejar matahari yang ada di depan kami yang semakin menjauh ke tempat persembunyiannya. Akhirnya bangunan khas Sydney yang atapnya seperti cangkang kerang  itu terlihat juga, sebuah foto berlatar belakang Opera House pun diabadikan.

DSC_0957-opera house

Advertisements